Fitriyah Dewi Wulandari_NHW 3_Pacitan Raya
Sebelum membahas poin per poin apa saja yang menjadi tugas dari Nice Homework #3 ini, rasa rasanya saya harus bersyukur sekali karena saya menikah di usia yang 'tepat' dan insyaallah mendapat pasangan yang 'tepat' pula. Mengapa saya bersyukur? Karena, definisi tepat di sini maksudnya adalah secara psikologis dan finansial Allah telah anggap saya matang. Memang dari planning hidup sewaktu masih single dan happy (sekarang pun jadi wife, mother and happy juga alhamdulilah 😉) saya menginginkan menikah di usia 25 tahun. Qodarullah, saya menikah di usia 27 tahun yang mendekati 28 tahun. Menyesal? Tidak sama sekali. Sebelum saya berkenalan dan mengetahui IIP, saya pernah menuliskan surat kecil tapi tidak detail sekali, untuk calon jodoh saya. Sayangnya saya sudah tidak menyimpannya. 😌. Isinya singkat saja, seingat saya,
Dear Allah SWT,
Tolong bantu calon imam saya di dunia menemukan saya dan saya juga bisa menemukannya. Barangkali selama ini sudah ada di depan mata, tetapi karena keangkuhan hati ini, jadi tidak nampak.
Aamiin.
Sudah, begitu saja. Hehe. Lalu apa hubungannya dengan NHW #3 ini? Hubungannya antara surat tadi, Allah SWT benar benar mengirimkan jodoh buat saya tak lama setelah surat kecil itu saya buat.
Saya sudah benar-benar ikhlas alias tidak punya calon pasangan saat itu. Tidak sedang berpacaran dengan siapapun. Dan usia sudah lebih dari 25 tahun. Plus dalam posisi sedang menempuh studi lanjut ke pascasarjana. Yang menurut orang, bakalan susah cari pendamping. Sudah ikhlas sajalah pikir saya. Saya hanya punya Allah SWT.
Singkat cerita memang benar, jodoh saya, yang menjawab ijab dari bapak saya, adalah teman lama. Teman SMP yang adiknya adalah murid saya di sebuah SMA. Masya Allah.
Waktu berjalan dan akhirnya terdamparlah saya di matrikulasi perkuliahan Institut Ibu Profesional Batch#7 Pacitan Raya ini.
Saya diingatkan oleh surat kecil yang 6 tahun silam saya tulis. Saya 'lupa' tidak pernah menuliskan balasan kepada imam saya saat ini, suami saya sendiri. Mungkin karena merasa sudah 'sah'. Khas sifat manusia yang lupa akan nikmatNya. Terima kasih IIP untuk tugas kali ini. Agak lama saya memikirkannya. Karena tidak mudah memang.
a. Jatuh cinta lah kembali pada suami Anda. Buatlah surat cinta yang menjadikan Anda memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah anak anak anda. Berikan kepadanya dan lihat respon suami.
Dear Mas Ir,
Sebelum aku tulis surat cinta ini untukmu. Terima kasih untuk segala yang mas berikan untuk ku dan anak anak. Aku sebut anak anak karena anak kita sudah dua. Yang satu insyaallah menjadi tabungan akhirat kita berdua ya mas. Aamiin aamiin aamiin Ya Robbal Alamin.
16 Mei 2015 adalah hari dimana perjanjian agung dunia akhirat kita dimulai. Hari dimana aku sah menjadi istrimu lalu kemudian menjadi ibu dari Ziyad dan Rahimullah Uwais.
Maafkan aku memasuki pernikahan ini dengan ala kadarnya meski aku sudah berusaha untuk mempersiapkan diri. Sebenarnya aku malu, karena yang lebih rapi dalam menyapu lebih rapi dalam menyetrika adalah dirimu.
Sedangkan aku, menyapu ala kadarnya dan menyetrika rapi pun aku belajar darimu.
Belum lagi saat aku hamil anak pertama kita, Ziyad. Saat itu entah memang karena bawaan bayi atau memang aku yang malas, aku benar benar malas mandi dan bersih-bersih rumah. Dan aku cemburuan sekali saat itu.
Aku malu. Biasanya ibu ibu muda curhat tentang betapa tak rapinya suaminya karena menaruh handuk sembarangan dsb justru aku belajar darimu, mas.
Terima kasih untuk pelajaran rapi dalam rumah tangga.
Pernikahan kita selanjutnya bahagia karena tidak lama aku hamil anak kedua kita.
Disitu aku sebenarnya kaget karena ziziyo masih ASI. Aku hamil lagi. Dan aku shock. Lagi lagi dengan gaya phlegmatismu (ini salah satu tes kepribadian, mas pernah tes online di FB dulu sekali, dan ini relevan menurutku) mas benar benar menenangkan aku (karena aku seorang koleris yang nampak tegas tetapi sebenarnya aku mudah panik jika sesuatu tidak sesuai planning ku). It is OK, jawabmu. Lagipula, dia anak kita berdua. Berbahagialah. Tegasmu lagi.
Dan selanjutnya, sampai akhirnya aku melahirkan dan karena tugas luar kota, mas tidak bisa menemani kelahiran Uwais.
Aku tak tahu harus berkata apa karena tak lama dia tidak bernafas.
Uwais sudah pulang. Selamanya. Ke kampung keabadian. Dari hadist yang pernah aku baca, dia sedang diasuh oleh Nabi Ibrahim AS dan ibunda Siti Sarah di Taman FirdausNya.
Saat itu aku hancur. Dunia rasanya kiamat. End.
Apalagi Saat asiku lancar sekali sementara yang disusui sudah tiada.
Beda dengan kelahiran anak pertama kita, asiku belum lancar.
Tapi melihat wajah ziziyo aku harus bangkit. Kasihan ziziyo jika harus melihatku terpuruk berparut larut.
Aku pun tahu, perasaan mas sama hancur lebur dengan perasaanku.
Tetapi demi menguatkan aku, mas (terlihat) tabah saat itu.
Terima kasih mas, sudah mengantar Uwais pulang terima kasih sudah menemani aku dalam masa masa duka itu.
Ah menuliskan ini pun air mataku masih saja mengalir. Insyaallah Uwais sudah bahagia di sana. Aku, yang harus terus belajar mengikhlaskannya.
Waktu terus berjalan ya mas. Gak kerasa si kakak, Ziziyo berusia 3 tahun bulan ini. Mas juga mempercayakan penuh pendidikan ziziyo padaku dalam arti mas percaya bahwa aku pantas menjadi guru pertama dan utama ziziyo.
Terima kasih pula atas diskusi diskusi kita, bahwa kita sampai pada kesimpulan bahwa ziziyo tidak memerlukan paud alias pendidikan anak usia dini. Aku, ibunya yang mas percayai bahwa insyaallah aku bisa mendidiknya.
Satu hal lagi yang menurutku mas bisa cool, tenang, malem meski di situasi terdesak. Berbeda denganku yang gampang terserang pannick attact saat ada sesuatu yang gawat terjadi. Ini penting sekali buatku, agar aku tetap berfikir tenang dan waras. Satu hal ini aku masih terus belajar darimu, Mas.
Terutama saat ziziyo sakit dan aku dalam kondisi pannick attack. Mungkin, aku juga trauma. Karena pernah kehilangan Uwais. Tapi tentu semua yang terjadi adalah takdirNya.
Jatuh cinta lah lagi pada suami anda, begitu bunyi kalimat tugasku.
Diam diam dan sampai saat ini hehehe, meskipun tidak setiap malam, aku melihat mas saat sudah terlelap. Cukup memandang saja. Ternyata mas orangnya, orang yang dikirim Allah, orang yang datang tak lama setelah surat kecil itu aku tulis. Masya Allah. Semoga Allah senantiasa memberkahi pernikahan kita ya mas.
Tentu tak sekali dua kita berbeda pendapat, tentang pintu batas antar ruang yang dibuka semua atau ditutup separuh. Dan hal remeh temeh lainnya. Semakin lama kita bersama aku makin hafal apa yang menjadi kesukaan mas dan apa yang menjadi ketidaksukaan mas. Tetapi mas orangnya alhamdulillah gak ribet tidak suka pun tidak akan menjadi permasalahan. Misal mas tidak suka ayam potong, tetapi mas tetap menghargai dan memakan jika aku menghidangkan menu itu. Aku tersanjung sekali karena mas selalu menghabiskan makanan entah enak ataupun tidak.
Terima kasih pula untuk ilmu bersyukur yang ini.
Terima kasih untuk (menuju) 4 tahun pernikaham kita dan seterusnya.
Tentu aku berharap pernikahan kita ini tidak hanya di dunia ini tetapi kekal abadi di surgaNya kelak. Aamiin aamiin aamiin.
Salam sayang,
Wulan
(surat ini saya copy paste dan saya kirim ke email suami. Saya kirim tepat saat suami sudah bersantai dan saya tunggu bagaimana responnya)
(dikarenakan suami masih belum membalas secara 'resmi' maka sementara sekian bahasa poin ini, segera setelah dibalas akan saya tulis di blog ini, semoga sebelum dinilai mba Nana sudah dibalas hehehe)
b. Lihatlah anak anak Anda, tuliskan potensi diri kekuatan diri mereka masing-masing.
Akhir tahun 2018 kemarin, sebelum saya mengikuti matrikulasi IIP, saya mengikutkan Ziziyo tes fingerprint untuk mengetahui modalitas dan bakat Ziziyo. Sebenarnya banyak sekali metode penggalian bakat anak, misal dari pandu 45 pak Didik dan Bu Septi (saya baru tahu setelah kopdar dengan mba Handayani tgl 8 Februari kemarin di perpusda kota Madiun) dan tes bakat dari Abah Rama.
Tujuan saya, kelak ziziyo fokus saja pada apa yang menjadi bakatnya.
Dari hasil analisis sidik jari atau finger print tes, ananda pertama kami, Ziziyo termasuk pemikir menggunakan otak kiri (36.35%) dan kanan (34.98%).
Gaya belajar Ziziyo diprediksi visual menggunakan gambar.
Dan group intelligence Ziziyo adalah akademik (34%). Kelebihannya adalah dia berfikir di atas rata rata. Juga memiliki kepercayaan diri yang bagus di lingkup akademiknya. Kekuatannya juga termasuk menganalogikan pembelajaran. Namun perlu diwaspadai sifat individualistik yang juga mengiringi group intelligence ini.
Dengan hasil tes tadi, saya lebih punya gambaran terhadap apa yang menjadi kekuatan ziziyo dan berusaha untuk menyalurkan apa yang menjadi minatnya
Dengan tipe pembelajar visual gambar, di rumah kami sediakan buku buku anak yang bergizi. Agar dia terpuaskan gaya pembelajarannya. Hal ini terbukti saat ini kami tidak berfokus calistung melainkan melek literasi. Dia belum tahu huruf tetapi simbol sudah hafal. Misal, simbol lambang perusahaan tertentu dan simbol suatu swalayan. Mengenai kecenderungan sifat individualismenya, saya tetap memuaskan ego kepemilikannya dengan berusaha untuk selalu meminta izin padanya jika ada temannya yang hendak meminjam mainan atau barangnya. Jika dia mengizinkan, maka saya perbolehkan temannya mengambil barangnya. Jika tidak maka saya beri alternatif pilihan. Tentu tidak semudah itu, memang. Tapi memang mendidik tidak bisa mendadak.
Namun, saya juga berkeinginan untuk menganalisis bakat ziziyo menggunakan Pandu 45. Agar mampu mengimbangi hasil tes berdasarkan finger print dari mesin tadi. Semoga di sesi perkuliahan matrikulasi selanjutnya saya bisa menerima sub bagian ini. Aamiin aamiin aamiin.
c. Lihatlah diri anda, silahkan cari kekuatan potensi diri anda. Kemudian tengok kembali pasangan dan anak, silahkan baca kehendak Allah, mengapa Anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga dengan bekal potensi yang Anda miliki.
Pertanyaan ini yang paling sulit sekali. Karena, menganalisis kekuatan diri sendiri itu paling sulit. Melihat orang atau anak sendiri bisa saya analisis tetapi diri sendiri sulit karena takut subyektif yang tinggi. Sampai bagian ini, saya meminta suami untuk memberikan penilaian tentang potensi saya. Menurut suami, karena saya telaten membuat folder (tercetak) tentang anak kami, lalu mengisinya dengan worksheet worksheet sederhana ala kami, suami menilai saya adalah pendidik yang baik. Saya rasa itu ada benarnya mungkin karena faktor jurusan saya kuliah. 4 tahun saya kuliah tentang kependidikan Bahasa Inggris dan 2 tahun lanjut si pasca sarjana di bidang yang sama. Tentu, akan berpengaruh pada pola fikir saya. Terlebih setelah menikah saya semakin getol untuk mengikuti grup grup parenting dan kuliah online parenting. Sehingga saya suka untuk membuat aktifitas dengan anak dan mendokumentasikannya. Alhamdulillah suami mempercayakan saya sebagai pendidik utama dan pertama anak (insyaallah anak anak kami selanjutnya juga) pertama kami. Kami bersepakat untuk tidak memasukkan anak ke sekolah untuk usia dini. Dengan usia yang baru tiga tahun, kami (saya dan suami) lebih mengedepankan anak untuk belajar secara informal alih alih dalam suasana formal. Setiap detik adalah belajar dan kami pun sebagai orangtuanya yang juga belajar. Belajar menjadi orangtua dan belajar mendidik anak.
d. Lihatlah lingkungan yang Anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan Anda? Adakah Anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga Anda dihadirkan di sini?
Tantangan di depan mata yang saya hadapi adalah kecenderungan orangtua muda di lingkungan kami untuk lebih membelikan gadget dan mendowbloadkan film kartun di bandingkan membuat agenda bermain bersama anak, dan membacakan buku bersama anak.
Masih ada stigma lebih baik membelikan mainan mahal daripada buku, karena buku untuk anak dianggap takut tidak dibaca dan eman eman karena anak belum bisa baca.
Hal hal inilah yang membuat saya dan beberapa ibu akhirnya membuat playdate rutin untuk anak anak di lingkungan perumahan tempat kami tinggal. Belum rutin satu pekan sekali tapi setidaknya kami berusaha untuk meminimalisir penggunaan gadget yang berlebihan. Selain itu, atas dorongan suami, saya diizinkan untuk membuka taman baca mini di rumah khususnya untuk para balita. Agar buku buku anak benar benar bisa dibacakan dan dirasakan manfaatnya langsung oleh anak anak.
Tantangan terberat bagi kami adalah saat para orang tua milenial ini masih menganggap gadget adalah benda yang sangat aman karena secara fisik, anak tetap di lingkungan rumah, tidak kemana-mana. Semoga, dalam hati saya berharap, orangtua mengecek secara berkala durasi lama penggunaan gadget dan konten yang dinikmati anak. Bukan karena saya sudah berhasil melakukan duet gadget pada anak kami sendiri, tetapi dengan kekuatan bersama tentu lebih mudah menanamkan nilai nilai luhur misal sopan dan sayang pada sesama, gadget adalah benda dan lebih utama adalah interaksi anak dengan lingkungannya. Nilai nilai ini lebih mudah untuk dikenal, difahami, dan dilakukan anak jika secara bersama sama anak dan teman mainnya juga diberikan pemahaman tentang penggunaan gadget bahkan batasan gadget pada usia di bawah 2 tahun.
Kedepannya taman baca yang kami kelola ini tidak hanya fokus pada playdate dan kegiatan membaca buku, serta kegiatan kuliah online lewat aplikasi WhatsApp, kami juga ingin dapat mengadakan seminar parenting untuk skala perumahan dan warga sekitar rumah kami agar orangtua khususnya yang menjadi tetangga kami juga bersama sama membesarkan anak anak kami dalam value yang sama, dalam hal ini adalah pembatasan penggunaan gadget. Semoga dapat terlaksana dalam beberapa bulan ke depan. Aamiin aamiin aamiin.