NHW#1_Fitriyah Dewi Wulandari_Pacitan
Adab Menuntut Ilmu
Setelah mempertimbangkan banyak hal, maka diputuskan untuk menulis tugas-tugas matrikulasi IIP di blog ini. Alasan paling utama adalah agar kelas semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi warga net dan menjadi arsip pribadi yang gampang dicari karena memiliki rejam jejak digital.
Baiklah, berikut jawaban dan uraian saya dalam tugas pertama alias NHW#1.
1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekun di universitas kehidupan ini.
Beberapa waktu yang lalu secara tidak sengaja, saya dan suami sempat membicarakan mirip dengan hal ini meski tidak mirip 100%. Hal ini karena, suami lebih suka saya di rumah. Mengurus anak kami sendiri daripada saya bekerja di luar rumah. Akan tetapi suami saya paham bahwa saya bukalah tipe ibu yang dapat berdiam diri lalu secara fisik dekat dengan anak tetapi secara hati berjauhan, naudzubillahimindzalik. Bahasa gampangnya, saya bisa bosan jika "hanya" mengantar suami bekerja dan menunggu datang kerja di sore atau malam hari. 🙂.
Setelah berdiskusi dengan suami, saya berkeinginan untuk mengambil jurusan pendidikan kerumahtanggan yang bermanfaat bagi sesamanya.
Jurusan ini berfokus pada memilih pasangan hidup yang benar, yang satu visi misi dan sama sama mengejar kehidupan akhirat dengan tidak melupakan kehidupan duniawi. dan memberikan manfaat bagi sesamanya, lalu membekali mahasiswanya dengan tips pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) serta tips kesehatan bagi keluarga dan jurusan ini pula akan membekali mahasiswanya, alias saya sendiri, dengan keterampilan dasar ke rumahtanggaan serta tentunya dengan ilmu ilmu untuk mendidik anak dari dalam kandungan hingga akil balig.
2. Alasan terkuat apa yang anda miliki sehingga ingin menekuni bidang ilmu tersebut?
Alasan terkuat adalah melihat saya sendiri memasuki dunia pernikahan dengan bekal ala kadarnya meski sudah berusaha menyiapkan diri dengan membaca buku buku tentang pernikahan tetap saja saya pribadi merasa kurang ilmu. Saya pribadi tidak terlalu terampil dalam mengurus rumah. Misalnya dalam memasak dan jahit menjahit. Tidak dipungkiri karena di waktu sebelumnya, saya memang dilarang masuk ke dapur agar belajar (akademis) saja. Tentunya sekarang hal ini bukanlah alasan karena saya dapat belajar dari banyak sumber. Lalu, melihat anak kami sendiri yang masih dalam usia dini. Saya pribadi berkeinginan membersamai anak kami dengan profesional. Ini selaras dengan visi misi Institut Ibu Profesional. Saya sering merasa sedih saat anak anak seusia kami hanya menghabiskan waktu dengan bermain gadget. Apalagi setelah tahu ada salah seorang anak kenalan yang sudah bermata minus di usia muda akibat terlalu lama bermain gadget.
Melihat mereka yang seharusnya bermain di luar, berinteraksi dengan alam dan membaca atau dibacakan buku, hati saya trenyuh manakala melihat anak anak seusia anak kami atau usia dini sudah diberikan gadget hanya agar "tidak mengganggu" orangtuanya. Definisi tidak mengganggu di sini misalnya agar anak mudah terpantau pengawasannya daripada membiarkan mereka bermain di luar rumah. Secara fisik bermain gadget dinilai lebih aman karena mereka tidak kemana mana, memang, akan tetapi konten dan durasi penggunaan gadget itu yang perlu diperhatikan. Jangan sampai konten yang tidak disaring dan tidak sesuai umur sudah dikonsumsi anak anak usia dini tersebut.
Alasan berikutnya lagi, karena berada di dalam rumah membersamai anak sering dianggap pekerjaan yang tidak bergengsi. Karena tidak menghasilkan uang. Padahal, membersamai mereka di rumah secara finansial, lebih menghemat anggaran karena tidak perlu menyewa pengasuh anak, misalnya. Dengan ibu hadir secara fisik-apalagi dengan hati- anak anak akan merasa nyaman dan terlindungi. Secara kesehatan, ibu yang berada di dalam rumah memiliki kontrol penuh terhadap apa apa yang dikonsumsi anak anak. Dan alasan yang paling utama adalah ibu dapat menjadi sekolah utama dan pertama bagi anak. Anak dapat bertanya langsung tentang suatu hal tanpa harus menunggu jam kerja ibu usai.
Melihat begitu banyaknya nikmat ini, seharusnya saya sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik, saya harus bersyukur. Justru dengan tidak memiliki perang ganda atau memiliki peran ganda tetapi waktu kerja yang masih bisa dikontrol dan diatur sendiri, insyaallah anak saya berada dalam asuhan yang aman.
3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan anda rencanakan di bidang tersebut?
Strategi saya untuk menuntut ilmu di jurusan pendidikan kerumahtanggan adalah :
🌺 Terus belajar dan mencari ilmu sebagai istri dan ibu pendidik. Dengan mengikuti IIP saya bertemu dengan rekan rekan yang memilik passion sejenis dan saling menguatkan satu sama lain.
🌺 Membaca buku buku yang berkaitan dengan jurusan pendidikan kerumahtanggan yang profesional secara rutin minimal seminggu sekali membaca dan meminjam buku dari perpustakaan kota terdekat.
🌺 Memiliki satu akun bertema bermain bersama anak di media sosial dan rutin mengisinya dengan ide ide bermain bersama anak dan tips tips parenting yang jelas "kehalalan" sumbernya. Maksudnya adalah jelas penulisnya serta jelas keikhlasan penulisnya untuk ilmunya dibagi.
🌺 Menghadiri seminar parenting online dan mengadakan serta menghadiri kelas kuliah melalui WhatsApp.
🌺 Membuka Taman baca dan les Bahasa Inggris gratis bagi anak yatim dan yang kurang mampu secara ekonomi.
4. Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?
Ada beberapa poin utama yang dapat saya garis bawah yang perlu saya perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut:
🌺 Berusaha tidak sembarangan main share berkaitan dengan informasi yang saya dapat dari media sosial.
Ini berkaitan dengan banyaknya informasi yang saya terima sering tidak jelas kebenarannya atau hanya berlabel "copas dari grup sebelah". Hal ini perlu untuk diwaspadai karena dikhawatirkan jika yang saya share bukanlah ilmu yang benar tentu akan menjadi dosa jariyah bagi saya.
🌺 Berusaha menanyakan kepada narasumber apakah boleh ilmu yang saya dapat saya bagi di dunia nyata dan maya. Keikhlasan dari narasumber dan guru akan berdampak pada kebermanfaatan ilmu yang saya dapat. Jika narasumber suatu seminar tidak berkenan ilmunya saya tulis untuk umum lebih baik saya hapus saja dan saya simpan sendiri.