Kamis, 21 Februari 2019

NHW4_Fitriyah Dewi Wulandari_Pacitan Raya

NHW keempat ini cukup menguras hati. Setelah nhw ketiga ada gangguan sistem jadi link missing dan tugas jadi masuk rekap terlambat. Selain itu soal soal di nhw keempat ini ya menguras hati juga. Menampar diri sendiri. Akan ke konsistensian diri. Tak apa semua memang proses. Allah menilai proses kita, tak semata hasil.
a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?.
Tidak, saya tidak ingin mengganti jurusan saya. Konsistensi itu penting. Jurusan kerumahtanggaan yang bermanfaat untuk sesama yang saya pilih tidak akan saya ganti. Tetap pilihan saya. Alasan saya karena setiap saat saya mengalaminya. Setiap detik saya mengalami dan menjalani peran sebagai ibu rumah tangga yang berusaha professional.

b. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten?
Sampai di titik ini saya harus mengakui ada beberapa cek list indikator yang belum terpenuhi. Misal cek List mengerjakan proyek buku anak setiap senin-rabu. Karena cek list ini saya sendiri yang membuat, maka saya berusaha untuk menganalisis mengapa bisa tidak terpenuhi. Salah satu faktor utama adalah saya kurang fokus pada apa yang akan saya raih. Terlalu banyak hal yang ingin saya raih. Misal berjualan online dan mengerjakan proyek buku anak dengan mengasuh anak sendiri yang masih tiga tahun. Karena itu saya perlu untuk memfokuskan lagi apa yang ingin saya raih yakni yang utama membersamai anak. Apalagi suami berpesan, yang utama itu anak dan jika mengelesi jangan minta bayaran. Karena itu dengan alasan fokus itu selalu satu, tidak ada fokus itu dua maka saya berfokus terlebih dahulu pada anak. Sedangkan jam 'sisa' atau jam 'me time' saya, saya baru gunakan untuk keperluan bisnis online dan pengembangan diri.
Berdasarkan upaya mengenali diri sendiri di atas,  maka saya dapat merumuskan hal berikut:

Misi Hidup : memberikan manfaat sebaik baiknya kepada sesama utamanya kepada keluarga (anak, suami dan orangtua).
Bidang : sosial kerumahtanggaan.
Peran : ibu rumah tangga

——–

d. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.

Untuk bisa menjadi memberikan manfaaat sebanyak-banyaknya sebagai pengajar ilmu yang perlu saya kuasai adalah sebagai berikut:

Ilmu agama agar dapat terus mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperhatikan cek list sebagai pribadi atau individu sebagai 'obat hati'.

Ilmu keluarga dan parenting sebagai panduan untuk menjalani peran sebagai ibu, istri, dan anak-anak dengan sebaik-baiknya.

Ilmu manajerial dan produktivitas  berupa time management, profesionalisme dengan memperhatikan skala prioritas dan alokasi waktu yang disusun sebagai jadwal sehari-hari.

———

e. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup

Saya menetapkan KM 0 pada usia 31 tahun, tepar saat memulai program foundation dan matrikulasi Institut Ibu Profesional. Melalui program matrikulasi ini saya banyak diingatkan untuk mengingat kembali adab menuntut ilmu. Ini penting buat saya karena adab itu selalu mendahului ilmu. Bukan sebaliknya. Dengan memahami ini, saya menjadi lebih ringan dalam mencerna ilmu ilmu atau materi materi yang saya terima selanjutnya. Saat ini, saat usia anak kami masih balita maka foukjs utama adalah mendidik dan membersamai anak kami secara profesional. Buat saya itu yang utama, waktu yang tersisa barulah untuk 'pekerjaan sampingan' saya. Milestone yang ditetapkan adalah sebagai berikut:
KM 0 – KM 1 ( tahun 1 ) : Menerima dan mempraktikkan ilmu yang saya terima utamanya dari program foundation dan matrikulasi IIP.
KM 1 – KM 2 (tahun 2 ) : mengisi rutin sebulan dua kali minimal program playdate yang sudah terbentuk.
KM 2 – KM 3 (tahun 3 ) : Membuka kelas Bahasa Inggris di Taman Baca di rumah kamim
KM 3 – KM 4 ( tahun 4) : Taman baca kami benar benar bersinergi dengan kegiatan masyarakat sekitar kami sehingga memberikan manfaat nyata.

e. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.
Dalam hal ini ada beberapa koreksi di nhw#2 dan menyisipkan ilmu ilmu yang belum saya masukkan.

f. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

 

Sabtu, 16 Februari 2019

NHW3_Fitriyah Dewi Wulandari_Pacitan


Fitriyah Dewi Wulandari_NHW 3_Pacitan Raya

Sebelum membahas poin per poin apa saja yang menjadi tugas dari Nice Homework #3 ini, rasa rasanya saya harus bersyukur sekali karena saya menikah di usia yang 'tepat' dan insyaallah mendapat pasangan yang 'tepat' pula. Mengapa saya bersyukur? Karena, definisi tepat di sini maksudnya adalah secara psikologis dan finansial Allah telah anggap saya matang. Memang dari planning hidup sewaktu masih single dan happy (sekarang pun jadi wife, mother and happy juga alhamdulilah 😉) saya menginginkan menikah di usia 25 tahun. Qodarullah, saya menikah di usia 27 tahun yang mendekati 28 tahun. Menyesal? Tidak sama sekali. Sebelum saya berkenalan dan mengetahui IIP, saya pernah menuliskan surat kecil tapi tidak detail sekali, untuk calon jodoh saya. Sayangnya saya sudah tidak menyimpannya. 😌. Isinya singkat saja, seingat saya,

Dear Allah SWT,
Tolong bantu calon imam saya di dunia menemukan saya dan saya juga bisa menemukannya. Barangkali selama ini sudah ada di depan mata, tetapi karena keangkuhan hati ini, jadi tidak nampak.
Aamiin.

Sudah, begitu saja. Hehe. Lalu apa hubungannya dengan NHW #3 ini? Hubungannya antara surat tadi, Allah SWT benar benar mengirimkan jodoh buat saya tak lama setelah surat kecil itu saya buat.
Saya sudah benar-benar ikhlas alias tidak punya calon pasangan saat itu. Tidak sedang berpacaran dengan siapapun. Dan usia sudah lebih dari 25 tahun. Plus dalam posisi sedang menempuh studi lanjut ke pascasarjana. Yang menurut orang, bakalan susah cari pendamping. Sudah ikhlas sajalah pikir saya. Saya hanya punya Allah SWT.
Singkat cerita memang benar, jodoh saya, yang menjawab ijab dari bapak saya, adalah teman lama. Teman SMP yang adiknya adalah murid saya di sebuah SMA. Masya Allah.
Waktu berjalan dan akhirnya terdamparlah saya di matrikulasi perkuliahan Institut Ibu Profesional Batch#7 Pacitan Raya ini.
Saya diingatkan oleh surat kecil yang 6 tahun silam saya tulis. Saya 'lupa' tidak pernah menuliskan balasan kepada imam saya saat ini, suami saya sendiri. Mungkin karena merasa sudah 'sah'. Khas sifat manusia yang lupa akan nikmatNya. Terima kasih IIP untuk tugas kali ini. Agak lama saya memikirkannya. Karena tidak mudah memang.
a. Jatuh cinta lah kembali pada suami Anda. Buatlah surat cinta yang menjadikan Anda memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah anak anak anda. Berikan kepadanya dan lihat respon suami.

Dear Mas Ir,
Sebelum aku tulis surat cinta ini untukmu. Terima kasih untuk segala yang mas berikan untuk ku dan anak anak. Aku sebut anak anak karena anak kita sudah dua. Yang satu insyaallah menjadi tabungan akhirat kita berdua ya mas. Aamiin aamiin aamiin Ya Robbal Alamin.
16 Mei 2015 adalah hari dimana perjanjian agung dunia akhirat kita dimulai. Hari dimana aku sah menjadi istrimu lalu kemudian menjadi ibu dari Ziyad dan Rahimullah Uwais.
Maafkan aku memasuki pernikahan ini dengan ala kadarnya meski aku sudah berusaha untuk mempersiapkan diri. Sebenarnya aku malu, karena yang lebih rapi dalam menyapu lebih rapi dalam menyetrika adalah dirimu.
Sedangkan aku, menyapu ala kadarnya dan menyetrika rapi pun aku belajar darimu.
Belum lagi saat aku hamil anak pertama kita, Ziyad. Saat itu entah memang karena bawaan bayi atau memang aku yang malas, aku benar benar malas mandi dan bersih-bersih rumah. Dan aku cemburuan sekali saat itu.
Aku malu. Biasanya ibu ibu muda curhat tentang betapa tak rapinya suaminya karena menaruh handuk sembarangan dsb justru aku belajar darimu, mas.
Terima kasih untuk pelajaran rapi dalam rumah tangga.
Pernikahan kita selanjutnya bahagia karena tidak lama aku hamil anak kedua kita.
Disitu aku sebenarnya kaget karena ziziyo masih ASI. Aku hamil lagi. Dan aku shock. Lagi lagi dengan gaya phlegmatismu (ini salah satu tes kepribadian, mas pernah tes online di FB dulu sekali, dan ini relevan menurutku) mas benar benar menenangkan aku (karena aku seorang koleris yang nampak tegas tetapi sebenarnya aku mudah panik jika sesuatu tidak sesuai planning ku). It is OK, jawabmu. Lagipula, dia anak kita berdua. Berbahagialah. Tegasmu lagi.
Dan selanjutnya, sampai akhirnya aku melahirkan dan karena tugas luar kota, mas tidak bisa menemani kelahiran Uwais.
Aku tak tahu harus berkata apa karena tak lama dia tidak bernafas.
Uwais sudah pulang. Selamanya. Ke kampung keabadian. Dari hadist yang pernah aku baca, dia sedang diasuh oleh Nabi Ibrahim AS dan ibunda Siti Sarah di Taman FirdausNya.
Saat itu aku hancur. Dunia rasanya kiamat. End.
Apalagi Saat asiku lancar sekali sementara yang disusui sudah tiada.
Beda dengan kelahiran anak pertama kita, asiku belum lancar.
Tapi melihat wajah ziziyo aku harus bangkit. Kasihan ziziyo jika harus melihatku terpuruk berparut larut.
Aku pun tahu, perasaan mas sama hancur lebur dengan perasaanku.
Tetapi demi menguatkan aku, mas (terlihat) tabah saat itu.
Terima kasih mas, sudah mengantar Uwais pulang terima kasih sudah menemani aku dalam masa masa duka itu.
Ah menuliskan ini pun air mataku masih saja mengalir. Insyaallah Uwais sudah bahagia di sana. Aku, yang harus terus belajar mengikhlaskannya.

Waktu terus berjalan ya mas. Gak kerasa si kakak, Ziziyo berusia 3 tahun bulan ini. Mas juga mempercayakan penuh pendidikan ziziyo padaku dalam arti mas percaya bahwa aku pantas menjadi guru pertama dan utama ziziyo.
Terima kasih pula atas diskusi diskusi kita, bahwa kita sampai pada kesimpulan bahwa ziziyo tidak memerlukan paud alias pendidikan anak usia dini. Aku, ibunya yang mas percayai bahwa insyaallah aku bisa mendidiknya.
Satu hal lagi yang menurutku mas bisa cool, tenang, malem meski di situasi terdesak. Berbeda denganku yang gampang terserang pannick attact saat ada sesuatu yang gawat terjadi. Ini penting sekali buatku, agar aku tetap berfikir tenang dan waras. Satu hal ini aku masih terus belajar darimu, Mas.
Terutama saat ziziyo sakit dan aku dalam kondisi pannick attack. Mungkin, aku juga trauma. Karena pernah kehilangan Uwais. Tapi tentu semua yang terjadi adalah takdirNya.

Jatuh cinta lah lagi pada suami anda, begitu bunyi kalimat tugasku.
Diam diam dan sampai saat ini hehehe, meskipun tidak setiap malam, aku melihat mas saat sudah terlelap. Cukup memandang saja. Ternyata mas orangnya, orang yang dikirim Allah, orang yang datang tak lama setelah surat kecil itu aku tulis. Masya Allah. Semoga Allah senantiasa memberkahi pernikahan kita ya mas.
Tentu tak sekali dua kita berbeda pendapat, tentang pintu batas antar ruang yang dibuka semua atau ditutup separuh. Dan hal remeh temeh lainnya. Semakin lama kita bersama aku makin hafal apa yang menjadi kesukaan mas dan apa yang menjadi ketidaksukaan mas. Tetapi mas orangnya alhamdulillah gak ribet tidak suka pun tidak akan menjadi permasalahan. Misal mas tidak suka ayam potong, tetapi mas tetap menghargai dan memakan jika aku menghidangkan menu itu. Aku tersanjung sekali karena mas selalu menghabiskan makanan entah enak ataupun tidak.
Terima kasih pula untuk ilmu bersyukur yang ini.
Terima kasih untuk (menuju) 4 tahun pernikaham kita dan seterusnya.
Tentu aku berharap pernikahan kita ini tidak hanya di dunia ini tetapi kekal abadi di surgaNya kelak. Aamiin aamiin aamiin.
Salam sayang,
Wulan
(surat ini saya copy paste dan saya kirim ke email suami. Saya kirim tepat saat suami sudah bersantai dan saya tunggu bagaimana responnya)
(dikarenakan suami masih belum membalas secara 'resmi' maka sementara sekian bahasa poin ini, segera setelah dibalas akan saya tulis di blog ini, semoga sebelum dinilai mba Nana sudah dibalas hehehe)

b. Lihatlah anak anak Anda, tuliskan potensi diri kekuatan diri mereka masing-masing.
Akhir tahun 2018 kemarin, sebelum saya mengikuti matrikulasi IIP, saya mengikutkan Ziziyo tes fingerprint untuk mengetahui modalitas dan bakat Ziziyo. Sebenarnya banyak sekali metode penggalian bakat anak, misal dari pandu 45 pak Didik dan Bu Septi (saya baru tahu setelah kopdar dengan mba Handayani tgl 8 Februari kemarin di perpusda kota Madiun) dan tes bakat dari Abah Rama.
Tujuan saya, kelak ziziyo fokus saja pada apa yang menjadi bakatnya.
Dari hasil analisis sidik jari atau finger print tes, ananda pertama kami, Ziziyo termasuk pemikir menggunakan otak kiri (36.35%) dan kanan (34.98%).
Gaya belajar Ziziyo diprediksi visual menggunakan gambar.
Dan group intelligence Ziziyo adalah akademik (34%). Kelebihannya adalah dia berfikir di atas rata rata. Juga memiliki kepercayaan diri yang bagus di lingkup akademiknya. Kekuatannya juga termasuk menganalogikan pembelajaran. Namun perlu diwaspadai sifat individualistik yang juga mengiringi group intelligence ini.
Dengan hasil tes tadi, saya lebih punya gambaran terhadap apa yang menjadi kekuatan ziziyo dan berusaha untuk menyalurkan apa yang menjadi minatnya
Dengan tipe pembelajar visual gambar, di rumah kami sediakan buku buku anak yang bergizi. Agar dia terpuaskan gaya pembelajarannya. Hal ini terbukti saat ini kami tidak berfokus calistung melainkan melek literasi. Dia belum tahu huruf tetapi simbol sudah hafal. Misal, simbol lambang perusahaan tertentu dan simbol suatu swalayan. Mengenai kecenderungan sifat individualismenya, saya tetap memuaskan ego kepemilikannya dengan berusaha untuk selalu meminta izin padanya jika ada temannya yang hendak meminjam mainan atau barangnya. Jika dia mengizinkan, maka saya perbolehkan temannya mengambil barangnya. Jika tidak maka saya beri alternatif pilihan. Tentu tidak semudah itu, memang. Tapi memang mendidik tidak bisa mendadak.
Namun, saya juga berkeinginan untuk menganalisis bakat ziziyo menggunakan Pandu 45. Agar mampu mengimbangi hasil tes berdasarkan finger print dari mesin tadi. Semoga di sesi perkuliahan matrikulasi selanjutnya saya bisa menerima sub bagian ini. Aamiin aamiin aamiin.

c. Lihatlah diri anda, silahkan cari kekuatan potensi diri anda. Kemudian tengok kembali pasangan dan anak, silahkan baca kehendak Allah, mengapa Anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga dengan bekal potensi yang Anda miliki.
Pertanyaan ini yang paling sulit sekali. Karena, menganalisis kekuatan diri sendiri itu paling sulit. Melihat orang atau anak sendiri bisa saya analisis tetapi diri sendiri sulit karena takut subyektif yang tinggi. Sampai bagian ini, saya meminta suami untuk memberikan penilaian tentang potensi saya. Menurut suami, karena saya telaten membuat folder (tercetak) tentang anak kami, lalu mengisinya dengan worksheet worksheet sederhana ala kami, suami menilai saya adalah pendidik yang baik. Saya rasa itu ada benarnya mungkin karena faktor jurusan saya kuliah. 4 tahun saya kuliah tentang kependidikan Bahasa Inggris dan 2 tahun lanjut si pasca sarjana di bidang yang sama. Tentu, akan berpengaruh pada pola fikir saya. Terlebih setelah menikah saya semakin getol untuk mengikuti grup grup parenting dan kuliah online parenting. Sehingga saya suka untuk membuat aktifitas dengan anak dan mendokumentasikannya. Alhamdulillah suami mempercayakan saya sebagai pendidik utama dan pertama anak (insyaallah anak anak kami selanjutnya juga) pertama kami. Kami bersepakat untuk tidak memasukkan anak ke sekolah untuk usia dini. Dengan usia yang baru tiga tahun, kami (saya dan suami) lebih mengedepankan anak untuk belajar secara informal alih alih dalam suasana formal. Setiap detik adalah belajar dan kami pun sebagai orangtuanya yang juga belajar. Belajar menjadi orangtua dan belajar mendidik anak.

d. Lihatlah lingkungan yang Anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan Anda? Adakah Anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga Anda dihadirkan di sini?
Tantangan di depan mata yang saya hadapi adalah kecenderungan orangtua muda di lingkungan kami untuk lebih membelikan gadget dan mendowbloadkan film kartun di bandingkan membuat agenda bermain bersama anak, dan membacakan buku bersama anak.
Masih ada stigma lebih baik membelikan mainan mahal daripada buku, karena buku untuk anak dianggap takut tidak dibaca dan eman eman karena anak belum bisa baca.
Hal hal inilah yang membuat saya dan beberapa ibu akhirnya membuat playdate rutin untuk anak anak di lingkungan perumahan tempat kami tinggal. Belum rutin satu pekan sekali tapi setidaknya kami berusaha untuk meminimalisir penggunaan gadget yang berlebihan. Selain itu, atas dorongan suami, saya diizinkan untuk membuka taman baca mini di rumah khususnya untuk para balita. Agar buku buku anak benar benar bisa dibacakan dan dirasakan manfaatnya langsung oleh anak anak.
Tantangan terberat bagi kami adalah saat para orang tua milenial ini masih menganggap gadget adalah benda yang sangat aman karena secara fisik, anak tetap di lingkungan rumah, tidak kemana-mana. Semoga, dalam hati saya berharap, orangtua mengecek secara berkala durasi lama penggunaan gadget dan konten yang dinikmati anak. Bukan karena saya sudah berhasil melakukan duet gadget pada anak kami sendiri, tetapi dengan kekuatan bersama tentu lebih mudah menanamkan nilai nilai luhur misal sopan dan sayang pada sesama, gadget adalah benda dan lebih utama adalah interaksi anak dengan lingkungannya. Nilai nilai ini lebih mudah untuk dikenal, difahami, dan dilakukan anak jika secara bersama sama anak dan teman mainnya juga diberikan pemahaman tentang penggunaan gadget bahkan batasan gadget pada usia di bawah 2 tahun.
Kedepannya taman baca yang kami kelola ini tidak hanya fokus pada playdate dan kegiatan membaca buku, serta kegiatan kuliah online lewat aplikasi WhatsApp, kami juga ingin dapat mengadakan seminar parenting untuk skala perumahan dan warga sekitar rumah kami agar orangtua khususnya yang menjadi tetangga kami juga bersama sama membesarkan anak anak kami dalam value yang sama, dalam hal ini adalah pembatasan penggunaan gadget. Semoga dapat terlaksana dalam beberapa bulan ke depan. Aamiin aamiin aamiin.





Sabtu, 09 Februari 2019

Tentang kopi darat IIP Pacitan Raya dan PIKK PLN UP3 Madiun yang ternyata satu benang merah.

Kopdar dan jodoh dua kali

Seharusnya saya sudah terdaftar di batch 5 tahun 2017 kemarin
Sudah dapat seat foundation selangkah ke matrikulasi.
Tetapi memang rezeki akan selalu datang pada yang punya
Tanpa pernah keliru
Tanpa pernah salah waktu.
Sempat kecewa sekali pada saat itu, sempat "nggondok" juga tapi tak jelas nggondok ke siapa 🤭😆😁.

Atas info sahabat lama dan insyaallah sahabat selamanya dek Husna Ummu Al Fatih tahun ini dapat kesempatan mendaftar lagi
Alhamdulillah dapat seat kelas foundation dan kelas matrikulasi.
Fix resmi di batch 7.
Teman teman seumuran saya sudah jauh lebih dulu mengikuti IIP (Institut Ibu Profesional). Tapi di sini ga ada kakak kelas dan adik kelas. Semua sama. Semua ibu.
Saat stadium generale di grup Telegram, saya praktis terkagum kagum betapa kerennya mba mba yg di video itu.
Percaya diri dan self esteem nya 'kelihatan'.

Masih teringat diri, irt biasa, berdaster kemana mana
Bisakah berbincang di depan ibu ibu dengan tenang dan percaya diri?
Lain cerita saat masih kuliah dulu, lain. Lain zaman.

Bahagiakah dengan pilihan saat ini? Dengan banyaknya pertanyaan kiri kanan tak emankah dengan ijazah mu?

Bukan, bukan sama sekali untuk membuat versus ini itu.
Semua adalah ibu. Semua punya jalan cerita masing masing. Semua ibu adalah teman seperjuangan.

Ternyata di tahun ini
Tepat di Batch #7 Matrikulasi IIP
Rezeki saya double.
Alhamdulillah langsung ketemu manajer matrikulasi IIP mba Handayani.
Berbagi info tentang pandu 45 secara langsung di perpustakaan kota Madiun dan alun alun kota Madiun.

Sorenya, saat saya akan menghadiri PIKK di kantor suami, (PIKK itu semacam dharma wanita ya... Persatuan istri dan karyawan kira kira begitu).
Qodarullah ketemu mba Handayani lagi. 🤩🤩🤩🌺🌺😍😍😍.
Kali ini beliau sharing tentang buket jajan.
Untuk orang awam ketrampilan, membuat dan dibekali ilmu ini rasanya alhamdulillah senang sekali. Sederhana tapi laku dijual. Skill sekali ini. 😍🤩.
Masih bonus ternyata salah satu anggota PIKK juga di IIP Batch sebelumnya. Dapat teman baru yang sama sama memiliki passion dan berada di grup yg sama. Alhamdulilah.

Jumat, 8 Februari kemarin saya tersadar.
Memang belum waktunya saya ikut matrikulasi IIP Batch #5.
Tetapi tahun ini, dan dibayar tunai.. Gimana sah? 😆😆😆

Bukan 'sekedar' ketemu mba Handayani, tetapi bertemu langsung dengan beliau dan teman teman senafas seirama sangat membantu diri ini agar tetap bersyukur dan tetap memiliki self esteem yg cukup pada diri sendiri, bahwa menjadi ibu itu cantik.

Alhamdulillah.
Jodoh (rezeki) itu selalu tepat waktu
Selama kita berusaha mendapatkannya
Sebaik baiknya.

Aamiin aamiin

Fitriyah Dewi Wulandari
Mahasiswa IIP Pacitan Raya batch #7

Kamis, 07 Februari 2019

Fitriyah Dewi Wulandari_NHW#2_Pacitan


Checklist indikator profesionalisme perempuan kelas matrikulasi IIP Batch #7.
Sebagai seorang istri dan ibu, ada beberapa peran yang saya jalani. Yakni sebagai individu, sebagai istri dan sebagai ibu. Tentunya setiap peran membutuhkan indikator kesuksesan yang berbeda-beda. Ngomong-ngomong soal indikator, ini mengingatkan saya pada salah satu tugas mata kuliah kependidikan di zaman kuliah (formal) dahulu. Karena jurusan yang saya pilih dalam universitas kehidupan adalah kerumahtanggaan yang bermanfaat bagi sesamanya, maka tentu indikator pencapaian akan memudahkan saya "lulus" dalam jurusan yang saya pilih sendiri.
Indikator itu hendaknya SMART, yakni Specific, Measurable, Achievable, Realistic and Time Bound.
Specific artinya unik dan detail, Measurable maksudnya adalah dapat diukur, Achievable artinya dapat atau memungkinkan untuk diraih dan Time Bound artinya berikan batas waktu.

Berikut adalah indikator profesionalisme perempuan menurut saya yang menjalani peran sebagai :
1. Individu (seorang muslimah)
Individu dalam hal ini yang saya maksudkan adalah seorang muslimah dan seorang makhluk sosial. Indikator yang saya anggap menunjang saya menjalani peran ini adalah:
✔️ Sholat lima waktu setidaknya subuh dan maghrib di awal waktu.
✔️ Sholat sunnah qabliyah dan ba'diyah minimal pada sholat subuh dan maghrib.
✔️ Sholat tahajjud dan Dhuha minimal empat kali dalam satu pekan.
✔️ Membaca AL Qur'an minimal sehari 20 ayat.
✔️ Membaca tafsir ibnu katsir setiap hari jumat pagi sebelum sholat subuh minimal 5 halaman.
✔️ Membaca Bulughul Maram setiap hari Sabtu atau Ahad pagi sebanyak minimal satu bab pembahasan.
✔️ Merutinkan dzikir pagi dan sore hari minimal salah satu dilakukan setiap hari.
✔️ Hadir majelis taklim lingkungan setiap bulan dan atau menghadiri kajian online minimal 4 kali dalam satu pekan.
✔️ Menjaga ukhuwah dengan tetangga dengan mengunjungi jika sakit, menyapa saat bertemu dan tidak mempergunjingkannya dilakukan setiap saat dan saat ada kabar tetangga yang sakit segera dijenguk minimal paling lambat 2 hari setelah mendapatkan kabar.
✔️ Infaq minimal satu kali per bulan saat infaq rutin.
✔️ Baca buku tentang mendidik anak, pelajaran bahasa inggris dan buku bergizi lainnya minimal satu bulan satu buku. Buku memanfaatkan koleksi pribadi dan meminjam ke perpustakaan kota yang artinya tidak harus beli.
✔️ Mengerjakan proyek buku anak kolaborasi dengan teman setiap hari senin--rabu pagi pukul 03.00 WIB.
✔️ Olahraga ringan  seperti aerobik sendiri dan bersepeda setiap pagi hari pada hari kamis, jumat dan sabtu atau minimal tiga kali dalam satu pekan.
✔️ Menjaga sikap baik dan tidak memposting kabar bohong, komen adu domba, tidak mem-follow- mengomentari akun gosip, dan menjaga sikap dengan menghindari perdebatan kepada suami, orangtua, mertua dan teman serta tetangga dilakukan aktif setiap hari.

2. Indikator profesional sebagai seorang istri

✔️ Berkata yang baik dan menghindari perdebatan dengan tetap mengutamakan prinsip komunikasi dua arah yang berimbang setiap hari.
✔️ Meminta izin kepada suami jika hendak keluar rumah atau berpegian utamanya ke tempat tempat umum misal perpustakaan kota, pusat perbelanjaan dan pasar yang jauh dari rumah dilakukan setiap saat akan mau keluar rumah.
✔️ Menjaga aurat setiap saat.
✔️ Menjaga kekurangan suami dengan tidak mengumbarnya di media sosial, ataupun di kehidupan nyata dilakukan setiap saat.
✔️ Berdiskusi tentang tumbuh kembang anak dan program rumah baca kami minimal sekali setiap akhir pekan.
✔️  Taat kepada suami selama tidak melanggar syariat dan dilakukan setiap saat.
✔️ Tidak berbicara dengan nada tinggi kepada suami ini dilakukan setiap saat dan apabila saat marah lebih baik diam jika tidak bisa berkata baik. ✔️ Mencatat pengeluaran rumah tangga setiap hari.
✔️ Menelepon dan melakukan video call minimal seminggu tiga kali kepada ibu mertua.
✔️ Mendorong suami untuk berbakti kepada ibu kandungnya dengan memberikan apa yang menjadi hak ibu mertua.
✔️ Menjaga kesehatan suami dengan menyediakan menu yang sehat terutama mengandung buah dan sayur yang dilakukan setiap hari.
✔️ Memasakkan menu kesukaan suami minimal seminggu sekali.
✔️ Mengunjungi mertua sekaligus orangtua (karena alhamdulillah mertua dan orangtua tigggal dalam satu daerah yang sama) minimal setahun dua kali.
✔️ Mengalokasikan waktu untuk berdua minimal satu pekan tiga kali.

3. Indikator profesional sebagai seorang ibu
✔️ Menyiapkan makanan sehat untuk anak setiap hari (tidak menggunakan nugget pabrikan, menu sehari terdapat sayur dan buah, serta menghindari menu fast food).
✔️ Membersamai anak dengan mengajak bermain yang mengasah motoriknya dilakukan setiap pekan mininal tiga kali.
✔️ Membacakan buku setiap hari minimal 5 menit.
✔️ Mengontrol waktu pemakaian gadget untuk anak maksimal 1 jam per hari dan akan terus berkurang hingga 30 menit per hari.
✔️ Latihan toilet training dari sore ke pagi hari dimulai pada 14 Februari tepat saat anak berusia 3 tahun.
✔️ Mengecek tumbuh kembang anak dengan hadir di posyandu lingkungan rutin tiap pekan ke-3 hari senin setiap bulan.
✔️ Mengamati anak setiap hari untuk memantau bakat bawaan anak. Ini terkait dengan untuk mengetahui bakat, minat dan kepribadian anak. Dibuat cek list khusus yg sederhana. Pengamatan ini dilakukan setiap hari. (Dengan menggunakan cek list bahasa bakat ananda dari Abah Rama).
Cek list bahasa bakat ananda antara lain:
1. Command
2. Activator
3. Competition
4. Maximizer
5. Significance
6. Self- assurance
7. Communication
8. Winning to others
9. Positivity
10. Developer
11. Relator
12. Includer
13. Harmony
14. Adaptability
15. Connectedness
16. Emphaty
17. Futuristic
18. Individiualization
19. Strategic
20. Ideation
21. Analytical
22. Learner
23. Input
24. Context
25. Restorative
26. Deliberative
27. Arranger
28. Disclipine
29. Consistency
30. Focus
31. Achiever
32. Intellection
33. Responsibility
34. Belief

✔️ Mendisiplinkan waktu mandi anak pagi hari maksimal pukul 07.30 sudah mandi dan sore hari maksimal pukul 16.30.
✔️ Melatih anak mengucap kata maaf, tolong dan terima kasih dengan memberi teladan terlebih dahulu. Proses pembiasaan ini dilakukan setiap hari ketika anak meminta tolong maka diajarkan untuk mengucap, "minta tolong buk..." setelah selesai "makasih buk.." kalau  salah, "maaf buk"
✔️ Mengajarkan dan membiasakan anak doa doa harian (doa sebelum makan dan sesudah makan, doa sebelum tidur) serta surat Al fatihah, al ikhlas, al falaq dan an Annas setiap hari utamanya sesuai waktu doa dan sewaktu bermain dengan anak sambil dikenalkan dan dibacakan keempat surat tadi.

Semoga yang sudah saya tuliskan di atas tidak sekedar berakhir menjadi cek list belaka melainkan menjadi gaya hidup untuk dipraktekkan ke dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga dengan adanya panduan ini dapat melecut semangat diri agar menjadi lebih baik lagi. Sesuai ungkapan (ada pula yang menyakini Hadist) yang saya pernah dengar, barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin maka dia merugi dan barang siapa dia lebih baik dari kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung
Aamiin aamiin aamiin Ya Mujibas Sailin.










Fitriyah Dewi Wulandari_NHW8_IP Pacitan Raya

Fitriyah Dewi Wulandari_NHW8_IP Pacitan Raya MISI HIDUP DAN PRODUKTIVITAS Bunda, setelah di materi sesi #8 kita belajar tentang bagaimana...